Separuh perjalanan menimba ilmu di Belanda selesai sudah. Terlepas dari suka dan duka, ada satu pertanyaan yang tidak pernah selesai dibicarakan: “mau apa kamu setelah selesai studi?”.

Terkait dengan pertanyaan tersebut, salah satu kewajiban yang cukup eksplisit diminta sebagai penerima beasiswa LPDP adalah kewajiban untuk kembali ke Indonesia dan mengabdikan diri kepada kepentingan nasional. Kewajiban ini semacam #trendingtopic baik ketika mau melamar beasiswa LPDP, menjadi awardee LPDP, dan lulus kuliah sebagai tidak hanya alumni almamater tetapi juga alumni LPDP.

Yang menarik dari #trendingtopic ini adalah pemaknaan kata “kembali”, terutama jika dilanjutkan dengan frasa “mengabdikan diri”. Entah ia dimaknai secara harfiah: naik pesawat udara dari Amsterdam ke Jakarta, menginjakkan kaki di tanah air, dan mencari (atau meneruskan) pekerjaan di bumi Indonesia. Atau, ia dimaknai secara bebas: kembali sekedarnya selama satu atau dua bulan (toh katanya tidak diatur mengenai kurun waktu), memilih tinggal di teritori negara lain namun bersandar pada pekerjaan yang berkaitan dengan kepentingan nasional, dan beragam interpretasi lainnya. Lantas, pemaknaan mana yang benar? Jika kata “benar” kemudian menimbulkan perdebatan mengenai subjektivitas kebenaran itu sendiri, maka pertanyaan dapat diubah menjadi: “pemaknaan mana yang pantas untuk dipilih oleh awardee LPDP?” Akan tetapi, lagi-lagi, perlindungan itu hadir dibalik “subjektivitas”.

Merujuk pada KBBI Daring, kata “kembali” dimaknai sebagai balik ke tempat semula. Contohnya: jika Apollo 11 berhasil membawa manusia ke bulan dan kembali, maka Apollo 11 akan berbalik ke bumi –tempat Apollo 11 semula. Kembalinya sesuatu atau seseorang ke tempat semula seringkali dikaitkan dengan waktu: “kapan?”, “berapa lama?”. Terhadap waktu inilah melankoli itu ada.

Singkat kata, memaknai janji untuk kembali tidaklah mudah dalam artian bahwa dalam pemaknaan itu, ada tarik-menarik kepentingan antara individu sebagai manusia privat –yang tentu saja punya cita-citanya sendiri dan individu sebagai penerima beasiswa LPDP –yang bisa jadi tidak bertentangan dengan cita-citanya tersebut. Namun, perlu diingat bahwa kedua individu itu adalah satu manusia yang sama, dan kepadanya Indonesia memanggil.

*gambar diambil dari sini

Advertisements