Agar seluruh awardee LPDP merupakan bagian dari SOLUSI bagi Bangsa Indonesia untuk mencapai cita-cita Indonesia yang adil, makmur, beradab dan bermartabat.

-Sri Mulyani Indrawati

Nukilan ini ditulis oleh Menteri Keuangan Republik Indonesia Sri Mulyani Indrawati (SMI) di Dinding Harapan pada acara Penyambutan Alumni LPDP 2017. Harapan ini tidak hanya sebuah sanjungan Ibu Menteri kepada awardee, tapi juga sebuah “beban” yang diletakkan di pundak para awardee. Dalam pidatonya, Ibu Menteri menyampaikan sanjungan dan amanah ini secara lebih mendetil. Saya merinding ketika membaca kutipan ini. Bukan karena kuntilanak sedang main ke Canberra, tapi karena beban berat yang disampaikan Ibu Menteri. Begini pemahaman saya terhadap pesan Ibu Menteri.

“Agar seluruh awarde LPDP …”

Harapan ini jelas ditujukan kepada seluruh awarde LPDP, baik yang sedang melakukan persiapan keberangkatan, sedang berkuliah, maupun yang sudah menyelesaikan perkuliahan dan sudah berkiprah di bidangnya masing-masing.

“… merupakan bagian dari SOLUSI …”

SMI sadar bahwa para awardee LPDP hanyalah sebagian dari solusi yang diperlukan untuk mencapai cita-cita Indonesia. Ia bukan merupakan aktor tunggal yang melakukan monolog di depan panggung untuk menghibur para penonton. Tapi ia merupakan salah satu aktor dalam pertunjukan besar yang, selain harus beraksi dengan kemampuan si aktor masing-masing, namun juga harus berinteraksi dan bersinergi dengan aktor-aktor lainnya.

 

Ketika berbicara sebuah SOLUSI, tentu ia merupakan sebuah pemecahan dari sebuah permasalahan. Lantas apa masalah yang dimaksud ibu SMI. Untuk menjadi bagian dari SOLUSI, awardee LPDP harus paham betul tentang masalah yang ingin dipecahkan. Sebuah masalah adalah hal yang menghalangi seseorang untuk mencapai sebuah tujuan. Hal ini berkaitan dengan penggalan terkahir harapan dari bu SMI.

“… bagi Bangsa Indonesia untuk mencapai cita-cita Indonesia yang adil, makmur, beradab dan bermartabat.”

Hal-hal yang menghambat Indonesia menajdi sebuah negara yang adil, makmur, beradab dan bermartabat, merupakan sekumpulan masalah yang dimaksud SMI. Adil, makmur, beradab dan bermartabat merupakan sebuah konsep yang luas cakupannya. Masing-masing bidang keilmuan dapat mengindentifikasi masing-masing konsep dan permasalahan yang dihadapi Indonesia dalam pencapaian konsep tersebut secara berbeda-beda. Dalam Ilmu Ekonomi, misalnya, cakupan konsep keadilan yang secara intens dibahas adalah tentang pemerataan pendapatan. Sedangkan permasalahan yang muncul adalah tentang ketimpangan, baik ketimpangan pendapatan maupun ketimpangan akses terhadap layanan pemerintah. Teman-teman yang menekuni bidang Ilmu Hukum mungkin membahas konsep keadilan dari cakupan yang berbeda—keadilan di mata hukum, misalnya—sehingga dapat mengidentifikasi permasalahan yang berbeda.

Menjadi awardee LPDP, menurut saya, merupakan sebuah proses dimana kita dapat mendalami permasalahan yang dihadapi Indonesia dan mencari solusi yang dapat kita tawarkan. Kita dibekali banyak kerangka keilmuan, teori maupun hipotesis untuk memahami sifat dan perilaku permasalahan tertentu. Pada tingkat pendidikan master dan doktoral, cakupan keilmuan yang kita selami akan semakin sempit, sehingga permasalahan yang kita bidani menjadi lebih sempit. Artinya, kolaborasi internal awardee LPDP dan external awardee LPDP dengan warga indonesia lainnya menjadi sebuah keharusan. Selain berkolaborasi, Ibu Menteri juga menuntut awardee LPDP untuk menjadi panutan dan penggerak bagi teman-teman segenerasi yang di masa depan harus melanjutkan upaya pembangunan Indonesia.

Ketiga hal ini: mendalami permasalahan yang relevan dengan bidang kita masing-masing, berkolaborasi dengan pihak lain, kemudian menghadirkan banyak solusi bagi banyak permasalahan yang dihadapi oleh Indonesia, merupakan sebuah hal yang tidak mudah untuk dilakukan. Itu mengapa saya menganggap ini sebagai beban yang sulit. Untungnya, sulit bukan berarti tidak mungkin untuk dilakukan.

Advertisements