Berbicara mengenai pendidikan selalu tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Perkembangan manusia dari zaman batu, kemudian zaman revolusi industri setelah ditemukannya logam, hingga zaman modern saat ini yang ikut euforia dunia mengembangkan teknologi berskala nano atau umum dikenal dengan nanoteknologi. Adanya perkembangan zaman dan teknologi karena pendidikan pada saat itu hingga masa tertentu menghasilkan suatu produk yang membantu memermudah pekerjaan manusia. Peran pendidikan dalam menggali informasi serta ilmu pengetahuan terus berkembang mengikuti pola pikir dan menjawab tantangan manusia untuk hidup menjadi lebih mudah di masa yang akan datang.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Pertanyaan dengan nada pesimis yang sering dilontarkan kepada siapapun terutama para pemuda. Pemuda yang saat ini dituntut, mungkin bukan dituntut melainkan suatu kewajiban untuk mempersiapkan diri menyambut masa depan bangsa yang gemilang. Banyak dari berbagai media yang menyebutkan bahwa kondisi Indonesia saat ini sedang terpuruk. Terpuruk dari segi ekonomi, kualitas pendidikan, perkembangan teknologi, kesehatan, kesejahteraan, hingga seni dan budaya. Itu dari sisi yang pesimis akan kemajuan Indonesia di masa depan. Dan faktanya, masih banyak yang memiliki sikap optimis akan kemajuan bangsa Indonesia di tangan generasi muda. Disamping juga sangat banyak pemuda-pemuda generasi penerus yang pragmatis terhadap kondisi negara saat ini. Semuanya itu dikembalikan lagi pada diri pribadi masing-masing.

Masih ingatkah dulu saat kecil dan baru pertama kali diajari oleh Ibu mengenal huruf dan angka. Atau saat pertama kali diajari tata cara makan yang baik. Disitulah pendidikan dasar dibangun. Tanpa adanya proses yang barangkali terlihat sangat sepele. Bahwa hal-hal yang demikian itu bisa diserahkan kepada bibi pengasuh bayi, namun disitulah letak proses pendidikan pertama kali diterima oleh manusia. Dasar dari proses tersebut akan terus selalu digunakan dan dipakai hingga ruh terlepas dari raga. Pendidikan tersebut sebagai lipatan-lipatan yang tersimpan secara alami dalam ingatan manusia.

Beranjak memasuki usia bermain, seorang anak sudah mulai mengenal teman sepermainannya. Sudah mulai belajar bagaimana berinteraksi dengan siapapun. Etika-etika dan tata krama menjadi tanggung jawab serta kewajiban moral dari keluarga khususnya orang tua untuk mengajarkan sikap-sikap yang baik bagi perkembangan anak. Terus akan tercipta suatu lipatan-liapatan baru.

Memasuki masa bersekolah, dari tingkatan taman kanak-kanak, kemudian ke sekolah dasar, lanjut ke sekolah menengah pertama, lalu ke sekolah menengah atas, hingga lanjut ke pendidikan tinggi baik sarjana kemudian bekerja maupun melanjutkan lagi ke jenjang pascasarjana. Hakikat pendidikan bukan masa sekolah namun dimanapun dan kapanpun sesungguhnya setiap manusia mengikuti kegiatan pendidikan di luar bangku sekolah. Kegiatan sekolah tersebut memaksa bahwa manusia yang sekolah membuat suatu lipatan-lipatan. Menyerap seluruh ilmu pengetahuan dan pelajaran-pelajaran kehidupan.

Indonesia dulu dibentuk oleh para pendiri bangsa untuk menjadi bangsa yang maju. Maju dalam artian memiliki kemampuan berpikir kedepan dan tidak kalah dengan bangsa lain. Tujuan berdirinya negara ini salah satunya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Berbagai program unggulan selalu digulirkan oleh pemerintah semata-mata untuk kemajuan kualitas pendidikan Nasional. Selain itu, pemerataan kualitas pendidikan yang masih sangat jauh dari harapan. Masih banyak sekolah yang gurunya hanya satu, buku pelajarannya masih itu-itu saja padahal kurikulum sudah ganti beberapa kali. Sangat ironis dan miris melihat kenyataan pendidikan yang ada saat ini. Kemudian status sekolah antara negeri dan swasta juga memengaruhi produk hasil pendidikannya. Apakah hal ini akan terus berlarut-larut dibiarkan? Sampai kapan akan terus seperti ini? Inilah tantangan bagi generasi muda untuk membangun Indonesia.

Program pemerintah saat seperti memberikan beasiswa kepada putra-putri sarjana terbaik Indonesia untuk melanjutkan pendidikan pascasarjana di berbagai universitas terbaik di seluruh dunia. Merupakan suatu kemajuan yang sangat luar biasa demi mempersiapkan generasi muda masa depan Indonesia untuk terus membuat lipatan-lipatan yang sangat banyak bahkan sampai menjadi gulungan-gulungan. Lipatan-lipatan pendidikan dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan hingga pendidikan di luar bangku sekolah terus diisi ke dalamnya. Semua persiapan  menyusun lipatan-lipatan itu dengan harapan setelah selesai masa studi nanti  atau saat waktunya sudah tepat, wajib diamalkan demi kemajuan dan kemandirian bangsa Indonesia di masa yang akan datang. Tanggung jawab moral untuk mengabdi dan memajukan Indonesia.

Masa depan ada di tangan kita saat ini. Semua benih-benih kebaikan yang ditebarkan kemudian kita serap menjadi lipatan-lipatan yang sangat kaya akan ilmu, menanti kita semua generasi emas Indonesia. Semua ilmu-ilmu dalam lipatan-lipatan yang sudah lama kita kumpulkan, detik demi detik, menit demi menit, hingga tahun demi tahun, nanti pada waktu yang tepat harus kita buka lipatan tersebut, kita sebar luaskan untuk Indonesia di masa yang akan datang.

Indonesia bisa, Indonesia Jaya, kualitas pendidikan merata, masyarakat sejahtera.

Selamat Hari Pendidikan Nasional

Kegiatan belajar mengajar
Kegiatan belajar mengajar di salah satu SD di Indonesia.
Advertisements