September 2016,

Periode ini adalah periode pertama saya berkuliah di Wageningen University, Belanda. Sebagai mahasiswa program studi Health and Society Specialisation, periode 1 menjadi periode wajib untuk mengambil mata kuliah yang berkaitan dengan pendekatan masalah kesehatan masyarakat. Pada mata kuliah ini, kami mahasiwa diberikan tugas pertama berbentuk penelitian. Kami dibagi menjadi beberapa kelompok dan diminta meneliti masalah kesehatan yang nyata terjadi di Belanda. Dan kesempatan kali ini, adalah Municipality (walikota) Amsterdam yang datang untuk membawakan masalah kesehatan masyarakat mereka.

Lalu apa isu kesehatan yang mereka bawa? Yaitu tentang kebiasaan melakukan aktivitas fisik/olahraga. Mereka mengatakan bahwa warga mereka masih belum cukup aktif bergerak dan angka obesitas masih ckup tinggi di sana, sehingga mereka minta diberikan rekomendasi tentang bagaimana meningkatkan aktivitas fisik warga mereka. Adapun isu khusus untuk kelompok saya sendiri adalah bagaimana membuat anak-anak di Amsterdam mau lebih sering bermain di luar (di taman bermain).

Pada presentasinya, Municipality Amsterdam menceritakan bahwa mereka sudah membangun lebih dari 1000 taman bermain di wilayah Amsterdam, namun sayangnya 22% persen anak hanya bermain di luar satu minggu sekali (berdasarkan survey yang mereka lakukan), yang mana ini tidak memenuhi target yang mereka buat. Oleh karena itulah mereka meminta kelompok saya mencari tahu kenapa anak-anak di sana masih jarang bermain di luar, apakah karena mainan yang disediakan kurang menarik atau karena ada faktor lainnya. Dan yang paling penting adalah kelompok saya harus bisa memberikan solusi atau rekomendasi dalam meningkatkan aktivitas fisik anak-anak tersebut di taman bermain.

Apa yang ingin saya ceritakan sebenarnya bukan tentang bagaimana hasil penelitian saya dan kelompok. Lebih dari itu, saya ingin menceritakan tentang perasaan saya ketika menerima tugas pertama di perkuliahan ini. Saat saya mendengarkan presentasi dari Municipality Amsterdam tentang masalah kesehatan masyarakat yang mereka angkat, sejujurnya saya merasa kagum sekaligus merasa sesak di hati. Saya sampai berkaca-kaca menahan air mata karena perasaan haru di dada. Saya kagum karena saya merasa pemerintah di Belanda (khususnya Municipality ini) benar-benar memperhatikan warganya. Bagaimana tidak, anak-anak hanya bermain satu minggu sekali di luar saja diurusnya sampai datang ke Universitas agar dirancangkan program/diberikan rekomendasi.

Lalu apa yang membuat sesak? Yaitu saya teringat akan perkataan salah satu guru saya ketika menempuh studi S1. Beliau pernah mengatakan bahwa Indonesia itu sepertinya sudah ketinggalan 50 tahun dari negara lain. Di saat negara lain sudah lebih banyak memikirkan tentang rekayasa genetika, Indonesia masih saja lebih banyak diributkan oleh kasus pembegalan. Terlepas dari benar tidaknya pernyataan itu, melihat presentasi Municipality  Amsterdam sudah memberikan sensasi perasaan “benar juga ya” tentang pernyataan tersebut. Sepertinya Indonesia lumayan tertinggal (opini saya). Belanda saat ini sudah sibuk memikirkan anak-anaknya yang masih kurang banyak bermain di luar rumah, sedangkan di negara saya, anak-anak  banyak yang masih terlantar dan mungkin belum tau mau tinggal dimana atau besok bisa makan apa.

Membandingkan Indonesia dengan Belanda yang notabene adalah negara maju mungkin memang tidak sesuai. Namun hal ini cukup membawa perasaan sedih dan haru di hati saya. Saya sadar bahwa Indonesia memang harus berusaha lebih lagi. Namun saya yakin Indonesia hari ini adalah Indonesia yang sedang terus bergerak menjadi lebih maju lagi. Untuk itu, saya bertekad untuk harus ambil bagian. Karena usaha yang dilakukan bangsa ini harus melalui semua orang, dengan bidang, keahlian, atau pekerjaan yang dipunya. Baik di bidang pendidikan, seni, kesehatan, fashion, hukum, teknologi, pertanian, dan banyak bidang serta cara lainnya.

Saya yakin apa yang saya, teman-teman dan banyak orang lakukan saat ini adalah bagian dari memajukan Indonesia. Melalui sekolah, pekerjaan, usaha dan bentuk upaya lainnya.  Sekarang tinggal bagimana semua bisa terus memaksimalkannya.

Harus yakin Indonesia bisa! Harus yakin Indonesia mampu adidaya!

 



 

Maka catatan tugas pertama di atas selalu saya jadikan penyemangat besar di dada. Bahwa saya harus bisa pulang menjadikan Indonesia bangsa yang lebih sehat dan sejahtera. Menjadikan Indonesia tidak tertinggal dari negara lainnya. Juga ada sedikit harapan yang tersemat di dada, agar teman-teman sebangsa lainnya– dimanapun mereka berada, merasa yang sama. Bersemangat dengan cara & bidang yang yang mereka tekuni demi Indonesia.

Selamat Hari Pendidikan Bangsaku..

Tertanda,

Anak Bangsa..

 

 

Gambar: Tangkapan layar dari halaman muka laporan akhir saya dan kelompok. Khairunnisa, Loenen, S., Pasman, C., Rothof, A., Weiland, S. 2016. Playing outside in Amsterdam: An analysis of the playgrounds in Zuidoost. 

Advertisements