Sampai saat ini, cukup sulit bagi saya untuk mendefinisikan apa yang dimaksud dengan orang berpendidikan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik. Di dalamnya tidak disebutkan secara eksplisit bahwa harus ada tingkatan sekolah tertentu atau tinggi. Saya berpendapat pendidikan itu buahnya ada dua: (1) kebermanfaatan, misalnya, insinyur dengan ilmunya bisa mendesain jembatan atau ekonom dengan keahliannya bisa memprediksikan inflasi; (2) kebijaksanaan dalam berperilaku atau menyikapi suatu fenomena. Secara pribadi, kebijaksanaan inilah kunci. Saya tidak bisa membayangkan bila dulu Bung Hatta hanya jadi ahli ekonomi, tanpa kebijaksanaannya merasakan penderitaan rakyat Indonesia sampai membuatnya ikut berjuang, mungkin Indonesia belum merdeka secara de jure seperti saat ini.

Mengenyam pendidikan tinggi itu penting meskipun saya yakin bahwa orang yang tidak sekolah tinggi secara formal belum tentu tidak berpendidikan. Nenek saya tidak bisa membaca dan menulis huruf latin, ia hanya dapat membaca huruf Arab karena rajin mengaji. Tetapi, sejak kecil ayah saya selalu disuguhinya dengan banyak bacaan, dari koran nasional sampai novel non fiksi. Nenek memiliki keyakinan bahwa membaca adalah salah satu cara mengenyam pendidikan – di samping sekolah formal. Tak hanya itu, nenek berbicara dengan sangat santun dan dapat membantu suaminya mengelola buruh tani. Beliau hampir tidak pernah mengingatkan anaknya atau siapapun dengan nada tinggi. Sekalipun ia tidak pernah membaca hasil penelitian Lise Gliot, ahli neuroscience dari Chicago Medical School yang mengatakan bahwa bentakan dapat merusak sel otak anak. Nenek mempraktikkan ilmu parenting tanpa buku, dan ia pasti tak sendiri. Ia buktikan pendidikan yang kadang tak perlu status.

Kebermanfaatan dan kebijaksanaan macam itu sering kali disebut dengan ilmu kehidupan – setidaknya hal itu yang sering dikatakan oleh orang-orang di sekeliling saya. Dalam berpikir dan bertindak seseorang dengan ilmu kehidupan menggunakan akal sehat dan logika yang dipelajari dari pengalaman pribadi atau (mungkin) petuah orang-orang di sekitar mereka. Sebaliknya, beberapa kali masih kita temukan beberapa orang berpendidikan (formal) tinggi justru tidak menunjukkan sikap kaum terdidik; dengan menipu, melakukan praktek korupsi, dan sebagainya.

Pendidikan tak terlepas dari kegiatan mendidik, dan mendidik bukanlah hanya tugas pemerintah, Pak Muhadjir Effendy, atau para guru saja. Mendidik adalah tugas kita semua (bagi siapapun yang bersedia), dengan proses yang tidak instan dan dampak seumur hidup. Contohnya, sampai saat ini saya masih mengecek apakah bulan Mei berjumlah 30 atau 31 hari dengan mengepalkan tangan dan menghitung gelombang di pangkal jari – persis yang diajarkan guru IPA ketika kelas 4 SD. Tentunya banyak ilmu lain yang sebetulnya sederhana, tetapi dampaknya signfikan bagi kehidupan seseorang.

Dalam proses mendidik, belakangan ini saya banyak terinspirasi oleh dua wanita yang saat ini tinggal bersama saya, Agis (putri saya) dan Lia (pengasuh Agis). Keduanya kritis dengan caranya masing-masing.

Suatu hari Lia bertanya, “Mbak, gaji PNS itu naiknya berapa bulan sekali?”

Saat itu saya berpikir bahwa pertanyaannya tendensius karena suami saya adalah seorang PNS, maka saya menjawab,

“Jarang Mbak, belum tentu setahun sekali.”

Saya tidak berbohong dan berusaha tidak memberikan angin surga bahwa gaji Lia akan sering naik, wong gaji employer-nya saja jarang naik.

Tak lama ia bertanya lagi,

“Oh, pantes ya pernah ada artikel di koran judulnya SBY curhat, katanya gajinya jarang naik.”

Di detik itu saya harus menahan rasa kagum atas analisisnya. Sebagai lulusan SMP ia cukup cerdas membuat hipotesis bahwa gaji SBY dan PNS sama-sama dialokasikan dari APBN dan bisa jadi frekuensi kenaikannya sama. Walaupun begitu, jawaban saya hari itu butuh divalidasi.

Kejadian itu menyadarkan bahwa sebenarnya saya bertugas untuk memberikan penjelasan yang dapat membentuk pola pikir yang logis dan bijak, sekalipun Lia tidak mengenyam pendidikan tinggi. Seringkali suami saya geleng-geleng ketika mendengar jawaban yang penuh pemikiran dan kehati-hatian. Termasuk ketika Lia menanyakan apa yang saya lakukan di kantor untuk mengawasi bank sentral, atau ketika sedang bekerja dari rumah dan ia menanyakan apa isi spreadsheet saya. Kadang hal itu membuat fokus saya buyar, tetapi senang rasanya melihat ia berani menggali hal-hal yang mengusiknya. Bonusnya, perasaan tenang karena mengetahui bahwa anak saya diasuh oleh seseorang yang cerdas dan kritis.

Beda dengan pengasuhnya, Agis yang belum genap berusia dua tahun, belum bisa memberikan pertanyaan kompleks yang meguras pikiran saya. Ia hanya sesekali menunjuk gambar di buku dan mengatakan ini apa.

Saya justru terusik dengan beberapa lagu anak yang mengajarkannya akan konstruksi realita yang salah. Lagu Si Kancil sudah jelas saya hindari, namun tidak pernah saya bayangkan bahwa lagu semacam Nina Bobo juga akan mengusik pikiran. Saya yakin bahwa seorang anak bukan digigit nyamuk karena ia tidak bobo, tetapi memang karena nyamuk memangsa siapapun yang ada di sekitarnya. Kalau anak saya tidak (segera) bobo, salah satu konsekuensinya yang mungkin ia dapatkan adalah bangun kesiangan. Saya kadang mengubah lirik lagu tersebut ata beberapa lagu lain yang dirasa perlu.

Memberikan jawaban bodoh atau jawaban asal-asalan akan dengan mudah menyelesaikan persoalan. Tetapi sangat disayangkan karena di saat yang sama seseorang sedang membuang kesempatan untuk mendidik. Belakangan ini Lia sesekali membaca majalah Tempo dan koran apapun yang ada di rumah saya. Dengan begitu, tak hanya ia yang semakin pintar, tetapi saya yakin ia bisa menjawab pertanyaan teman-teman atau tetangga di desanya dengan lebih baik.

Mendidik tidak selalu harus diartikan dengan mengajar di kelas. Banyak cara lain yang bisa ditempuh. Hal yang lebih penting dari membuat seseorang lulus SMP, SMA, atau mendapatkan gelar tertentu adalah memastikan mereka berpikir logis, memiliki kearifan, dan dapat bermanfaat bagi lingkungannya. Hal itu bisa diawali dengan berhenti memberikan jawaban bodoh kepada siapapun. Sekalipun si penanya adalah tukang cuci di rumah atau pedagang asongan di jalan. Tak luput kepada anak, dalam mendidik mereka sebaiknya orang tua memberikan jawaban jujur dan rasional. Ketika banyak orang berhenti memberi jawaban bodoh dan memulai menjelaskan dengan benar, ada harapan bahwa pendidikan yang maju tidak lagi menjadi sekedar status.

sumber gambar: pinterest

Advertisements