Kita semua tahu bahwa Indonesia adalah bangsa yang luar biasa. Tengok saja sejarah bangsa Indonesia bersama potensinya hingga saat ini; sulit bagi siapapun untuk sangsi terhadap potensinya yang, sekali lagi, luar biasa. Di satu sisi, kita tentu juga sudah tahu bahwa bangsa kita masih berjuang menuju era yang lebih baik. Menengok tetangga kita seperti Malaysia, Thailand, atau yang sedikit lebih jauh, Korea Selatan, yang walaupun usia kemerdekaannya sebelas-dua-belas dengan negara kita, mereka sudah jauh lebih unggul di banyak bidang.

Bertolak dari titik inilah saya tetap selalu yakin bahwa Indonesia bisa unggul dan patut dikembangkan keunggulannya. Kemudian bidang apa yang mesti kita unggulkan? Teknik? Pasti. Ekonomi dan akuntansi? Tentu. Kedokteran? Betul. Sains? Yoih. Hukum? Jelas. Pendidikan? Apalagi. Tapi bagaimana dengan seni dan budaya? Lebih mengerucut lagi: bagaimana dengan musik? Apakah bidang ini masih perlu untuk diunggulkan? Jikapun begitu, apakah derajat prioritasnya setara dengan bidang lainnya?

Definisi musik; jejak pemikiran dan sistem tanda

Sebelum melanjutkan diskusi ini lebih jauh, saya ingin fokus terlebih dahulu pada pengertian tentang musik. Dari apa yang sudah saya dengar sejak sepuluh tahun yang lalu, ada banyak sekali definisi musik: medium ekspresi manusia, sesuatu yang indah dan selaras, penawar rasa lelah dan patah hati, soundtrack hidup seseorang, dsb. Ada yang lebih ekstrem lagi: musik itu agama seseorang, musik itu ribuan kata yang terangkai dalam satu bingkai bunyi yang penuh cinta, dll. Semua pengertian tersebut tidak salah dan sah-sah saja. Bahkan ada yang mengatakan bahwa musik itu tidak perlu didefinisikan dan itupun bagi saya sah-sah saja.

Menurut saya, musik itu sebuah entitas yang merepresentasikan jejak pemikiran manusia, sama derajatnya dengan buku, dengan sintaks sebagai pembedanya. Jika mengacu kepada pengertian musik menurut Guerino Mazzola di dalam The Topos of Music; Geometric Logic of Concepts, Theory, and Performance, musik merupakan sebuah sistem tanda tersusun dari bentuk-bentuk rumit yang dapat direpresentasikan ke dalam bunyi, dan, yang dalam hal ini, menghubungkan antara muatan mental dan batin. Saya menemukan kaitan di antara keduanya bahwa musik merupakan sebuah sistem tanda yang di dalamnya terdapat entitas pengetahuan di mana kita dapat menemukan dan menguraikan apa yang tersirat dalam sistem tanda tersebut.

Musik, bunyi, semiotik, dan alam bawah sadar

Dari definisi di atas, sistem tanda adalah apa yang membuat pengetahuan dan informasi yang tersimpan di dalamnya menjadi sesuatu yang bekerja di alam bawah sadar. Dari segi morfologinya, musik dan bunyi memiliki berbagai dimensi: waktu, ruangtiti laras, amplitudo, warna suara, dan gesture. Dimensi tersebut membentuk ‘arsitektur’ bunyi. Secara singkat, arsitektur ini kemudian diterjemahkan oleh otak sebagai sistem tanda yang lebih rumit daripada bahasa yang digunakan oleh manusia untuk berkomunikasi karena perbedaan sintaksnya. Di sisi lain, manusia mempunyai pola-pola tertentu—yang terbentuk sejak dini—yang kemudian membentuk prasetelan dalam sistem pemikirannya, atau dalam bahasa sehari-harinya adalah selera.

Uniknya, betapapun selera memengaruhi kita dalam menentukan daftar lagu, bentuk-bentuk musik dan bunyi apapun yang kita tangkap akan membentuk pola pemikiran secara bawah sadar. Itulah sebabnya selera dapat dibentuk. Betapapun kita membenci dangdut, arsitektur bunyinya tak dapat dibantah mampu menggoyang tubuh kita dari level mikroskopis hingga level ‘ngebor’. Betapapun kita tidak suka musik improvisasi, misalnya free jazz dan noise, arsitektur bunyinya tak dapat dibantah mampu membuka perspektif pemikiran yang lain secara bawah sadar.

Betapapun kita acuh tak acuh pada bising kendaraan di jalan, tak terelakkan bunyinya telah memengaruhi masyarakat untuk ‘berteriak paling keras supaya terlihat benar’. Manusia Indonesia, walaupun hebat dalam kemampuannya mendengarkan bunyi jalanan sebesar lebih dari 90 dB selama lebih dari dua jam, tak akan mampu menampik pengaruh bawah sadar yang dibawa oleh bunyi bising-yang-tidak-pada-tempatnya tersebut. Belum lagi jika kemampuan mendengarnya sudah terdegradasi duluan tanpa disadari karena mendengar kebisingan tersebut terus-menerus.

Musik dan antardisiplin

Jika musik merupakan sistem tanda yang dapat direpresentasikan ke dalam bunyi, maka medium lain pun dapat menjadi representasi sistem tanda tersebut. Jika sistem tanda ini diwujudkan ke dalam medium tari, maka dia menjadi tari; jika diwujudkan ke dalam medium visual, maka dia menjadi video atau lukisan. Apa artinya? Medium hasil pengejawantahan sistem tanda tertentu memiliki gesture—baik itu yang bergerak (seperti pada seni pertunjukan) maupun yang terpatri (seperti pada puisi dan lukisan)—sebagai penghubung. Korelasi gesture yang terjadi di antara medium inilah yang memungkinkan kerja sama antardisiplin.

Musik adalah hasil perkawinan antardisiplin jika ditarik lebih jauh lagi pada zaman sebelum Masehi. Jika Phytagoras tidak menemukan sistem penandaan senar menjadi beberapa bagian, mungkin saja tidak akan ada gitar yang dipakai cowok untuk nyepik ceweknya. Jika Joseph Fourier tidak menemukan teori yang mengejawantahkan formula yang merepresentasikan spektrum dan sinyal, mungkin saja Awkarin tidak akan dapat menggunakan teknologi auto-tune dan phase vocoder serta mungkin saja tidak akan ada cakram padat (CD) untuk menyimpan musik. Jika Muhammad ibn Mūsá ibn Shākir tidak menemukan instrumen musik automatis, mungkin saja tidak akan sistem pengontrol MIDI dan Yamaha mungkin tidak akan setenar sekarang. Musik, menurut Mazzola, bekerja berkat matematika, fisika, semiotik, dan psikologi.

Musik tradisional dan kontemporer

Jejak pemikiran dan sistem tanda yang kaya telah tersimpan dalam musik tradisional di seantero jagad Indonesia, seperti karawitan, saluang jo dendang, calung banyumasan, dan masih banyak lagi. Kekayaan ini perlu kita lestarikan sehingga pengetahuan yang terdapat di dalamnya dapat digali sepanjang masa.

Hal ini akan menjadi lebih bagus apabila pelestarian musik tradisional diimbangi dengan perhatian dan dukungan kita pada musik kontemporer. Kontemporer tidak berarti sebuah jenis (genre) musik melainkan bermakna “saat ini” atau “pada waktu yang bersangkutan”. Musik tradisional adalah musik kontemporer pada zamannya yang kemudian mewakili pemikiran pada zamannya. Musik kontemporer, dengan begitu, dapat menghasilkan produk pengetahuan yang dapat pula mewakili pemikiran saat ini. Patut diperhatikan pula bahwa apa yang menjadi saat ini terhubung dengan apa yang terjadi pada masa lampau sekaligus masa kini sehingga perkembangan musik dan apapun pada saat ini terjadi berkat ‘gesture’ yang menentukan aksi kita terhadap pengetahuan masa lampau dan masa kini.

Potensi musik

Dengan sifatnya yang menyimpan pengetahuan, musik kadang tidak selalu terdengar ‘indah’ karena musik memang tidak selalu dimaksudkan untuk menjadi indah. Namun, musik seringkali ajaib; musik dapat menggiring masa kampanye yang besar, musik dapat menjadi jembatan untuk pemahaman terhadap sains dan matematika (dan begitu juga sebaliknya), dan bahkan musik dapat menjadi medium interaksi bagi penyandang alzheimer di mana kemampuan mental tertingginya yang tersisa dapat berinteraksi dengan bunyi. Lebih jauh lagi, studi bunyi dapat menjadi salah satu solusi dalam tata ruang instalasi, bangunan, arena, maupun kota.

Musik mampu membawa Korea Selatan dan Jepang menjadi negara yang dikenal di dunia, dan bidang lain seperti teknologi dan ekonomi, bisa terangkat bersama. Musik bisa menjadi sebuah identitas; blues dan jazz yang lahir dari kaum kulit hitam di Amerika Serikat menjadi salah satu identitas bangsa Amerika Serikat tidak terbatas pada kaum kulit hitam saja, namun seluruh lapisan bangsa menjadikannya identitas bersama; dangdut pantura berhasil menciptakan identitas bagi kaum pesisir utara Jawa dan sekitarnya serta menciptakan formula bunyi agar supir-supir truk mampu mengusir rasa kantuk.

Sekalipun kita tidak percaya pada hal-hal yang telah disebutkan di atas, musik sedang memengaruhi kita secara alam bawah sadar dalam dimensi apapun.

Epilog

Masih pentingkah musik dan bunyi dipelajari? Pertanyaan ini dilemparkan kepada kita semua agar kita merenung betapa kita berpotensi mengembangkan bangsa Indonesia melalui musik dengan berbagai macam pendekatannya, tingkat kedalamannya, dan besaran cakupannya.

Musik bukan lagi merupakan hiburan semata. Kita dapat menarik suatu pengetahuan melalui musik dan melalui musik pun kita dapat menghasilkan pengetahuan. Melalui musik kita dapat menciptakan identitas kita yang dapat mencerminkan pemikiran saat ini dan membebaskan diri atas dinding pemikiran yang terkadang jauh lebih konyol daripada dinding yang ingin dibangun untuk membatasi pergerakan Meksiko terhadap tetangganya. Sudah saatnya kita memandang musik dengan perspektif yang lebih luas karena sesungguhnya salah satu kemerdekaan yang sejati adalah kemerdekaan untuk belajar dan mencipta. (Minneapolis, 2 Mei 2017)

—–

Jay Afrisando adalah komposer, inisiator, dan improviser musik dari Indonesia. Karyanya beragam, dari improvisasi hingga menggunakan notasi, dari format solo hingga partisipatoris, dan dari akustik hingga elektroakustik. Saat ini dia sedang menempuh pendidikannya di program pascasarjana Music Composition, University of Minnesota.

Sumber gambar: https://pixabay.com/en/relax-headphone-music-appreciation-1813100/

 

Advertisements