Hakekat Pembangunan Nasional adalah pembangunan manusia secara utuh dan menyeluruh. Utuh dalam berbagai hal, baik itu aspek sosial, psikis maupun fisiknya. Menyeluruh berarti menyentuh seluruh lapisan masyarakat tanpa mengenal status sosial, ekonomi, suku, bangsa, dan agama. Kesehatan, pendidikan, kesetaraan sosial, pemerataan ekonomi, dan kesejahteraan sosial merupakan bagian penting yang bisa menjadi tolok ukur nilai-nilai kemerdekaan di masyarakat.  Pembangunan kesehatan merupakan salah satu  pondasi  utama suatu bangsa dalam menciptakan bangsa yang maju dan mandiri. Berbagai lini kesehatan yang lebih spesifik dan masih jarang tersentuh seharusnya juga mendapat perhatian. Salah satu domain bidang kesehatan yang nampaknya masih belum tersentuh dan butuh perhatian khusus semua elemen bangsa terkhusus kalangan medis adalah penanganan atau rehabilitasi penderita cacat kepala dan wajah ( Maksilofasial ) post operasi penderita kanker mulut di Indonesia.

Banyaknya kasus penderita cacat kepala dan wajah ( Maksilofasial ) di Indonesia disebabkan oleh banyak hal diantaranya terjadinya infeksi kanker mulut yang berakibat harus dilakukannya operasi dan pengangkatan organ sehingga menyisakan kecacatan.  Penyebab lainnya bisa karena trauma atau kecelakaan lalu lintas. Kecacatan bahkan bisa terjadi dari lahir atau dengan kata lain merupakan kelainan bawaan.

Kanker mulut merupakan masalah serius yang terjadi di banyak negara. Kasus kanker mulut setiap tahunnya terjadi pada sekitar 275.000 pasien dan hampir 75% diantaranya terjadi di negara berkembang. Di seluruh dunia, kanker mulut menyebabkan satu orang meninggal setiap harinya. Hasil penelitian Simanjuntak yang dimuat di salah satu artikel tahun 2012 menunjukkan angka prevalensi kanker mulut yang cukup tinggi berkisar antara 3-4% dari semua kasus kanker yang terjadi. Angka kematian yang ditimbulkan berkisar 2-3% dari semua kematian akibat keganasan kanker ini . Tulisan yang dirilis Anna Maria (Data diambil dari data Individual Basic Health Research 2007), menunjukkan prevalensi terbesar ditemukan di lima wilayah di Indonesia; Jambi, Sulawesi Barat, Maluku Utara, Papua Barat yang disebabkan oleh rokok, kebiasaan mengunyah siri, dan kurangnya perhatian terhadap kebersihan mulut. Kasus kanker kepala dan leher berkisar 17% dari semua kasus kanker yang terjadi di Indonesia. Hal ini mempengaruhi struktur fisik wajah dan rongga mulut penderita. Selain itu, kanker ini juga bisa mempengaruhi berbagai fungsi organ seperti  menelan, pengucapan, pernapasan serta estetika. Singkatnya semua kasus ini dapat mempengaruhi kualitas hidup penderita. Hal ini semakin diperparah dengan belum dilakukannya penaganan khusus atau rehabilitasi setelah dilakukan operasi pengangkatan organ seperti mata, hidung, telinga, atau sebagian rahang.

Kehilangan bagian dari wajah misalnya mata, hidung, telinga, atau sebagian rahang merupakan fenomena yang tidak asing bagi kami di lingkungan maksilofasial prosthodontist. Hal yang menjadi masalah bagi sebahagian besar dari mereka adalah kurangnya dana untuk dilakukan penaganan lebih lanjut seperti pembuatan protesa organ yang hilang mengingat harga pembuatan alat ini tergolong tidak murah dan tidak diakomodir oleh penyedia jasa layanan kesehatan nasional. Hal ini membuat mereka semakin menjauh, tidak nampak dan bahkan mengucilkan diri karena tidak memiliki kepercayaan diri untuk bersosialisasi dengan lingkungan mereka.

Rekam medis yang diperoleh berdasarkan hasil penelitian di Makassar- Sulawesi Selatan oleh Edwina dan Afifah, menunjukkan bahwa di tahun 2014 tercatat ada 295 pasien yang tidak direhabilitasi dengan pemasangan protesa maksilofasial (daerah saya berasal). Kasus seperti ini kurang mendapatkan penanganan prosthodontist diakibatkan oleh berbagai faktor. Faktor utama adalah kurangnya dokter gigi spesialis di Indonesia khususnya di Makassar dalam bidang prostodonsia yang secara khusus melakukan penanganan prostetik oral maksilofasial.

unnamed

20170518_094211

Perhatian khusus dan bantuan rehabilitasi  bagi penderita cacat pada wajah merupakan usaha yang harusnya tidak terpisahkan dari pembangunan nasional. Usaha ini bertujuan untuk mewujudkan  cita-cita tercapainya masyarakat adil dan makmur yang merata tidak terkecuali mereka yang mengalami kecacatan pada bagian wajah . Penderita cacat harus memiliki kembali kepercayaan dirinya untuk terlibat secara sosial  bahkan dapat kembali aktif dalam proses pembangunan.

Sosialisasi kesehatan tidak hanya berfokus pada bagaimana pola hidup sehat, namun juga bagi mereka yang telah menjalani proses rehabilitasi atau telah survive melawan penyakit, apalagi dengan cacat yang diterima. Pendekatan secara sosial, penjelasan pentingnya rehabilitasi serta bagaimana pola hidup setelahnya perlu menjadi bahan acuan penting bagi kita sebagai praktisi kesehatan utamanya prosthodontist.

Berawal dari aktivitas dan kegiatan sehari-hari menjadi seorang dokter gigi, menggelitik saya untuk melanjutkan studi ke sebuah jenjang pendidikan dokter gigi spesialis Prostodonsia, dimana ilmu yang tepatnya merehabilitasi bukan hanya kehilangan gigi namun hingga kasus penderita cacat kepala dan wajah ( Maksilofasial ). Mendalami ini, membuat saya semakin bersemangat untuk terlibat dalam berbagai aktifitas di bidang maksilofasial. Keterlibatan di beberapa kegiatan bakti sosial dan menjadi salah satu pengurus di Celebes Cleft Center (yayasan yang mengakomodir operasi gratis penderita celah bibir dan langit-langit). Semoga kedepan kami bisa mewujudkan yayasan yang bergerak di bidang rehabilitasi maksilofasial.

Dirgahayu republik Indonesia yang ke-72, sedikit banyak menelisik  bahwa apakah mereka yang telah menjalani sekian banyak proses untuk bertahan hidup telah berhasil memperoleh kemerdekaan sesungguhnya. Hak untuk diterima dan memperoleh perlakuan yang sama di masyarakat. Mari sama-sama bergerak demi penyetaraan kesehatan Indonesia. Mereka yang telah kehilangan mata, hidung, telinga, atau sebagian rahang mereka tetap memiliki harapan dan layak untuk merdeka, dalam artian mereka masih tetap memiliki kesempatan untuk menjalankan kehidupan normal seperti mereka yang tidak pernah merasakan sakit sekalipun.

 

Selamat hari kemerdekaan, Maju terus bangsaku..Mari bekerja bersama….

logo-hut-ri-72-tahun-indonesia-kerja-bersama

Salam kemerdekaan,

Amsterdam, 17 Agustus 2017

 

Advertisements